Soviasay's Blog


PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN IPS
Agustus 30, 2009, 7:10 am
Filed under: Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah ” Bagaimanakah Penerapan Pendekatan Kontekstual Dalam pembelajaran IPS?”

C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Makalah ini mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPS di sekolah

BAB II
PEMBAHASAN

A. HAKEKAT PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan mengembangkan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indikator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (review, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara)

B. PERBEDAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN PENDEKATAN TRADISIONAL
NO CTL TRADISONAL
1. Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman) Menyandarkan pada hapalan
2. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuh-an siswa Pemilihan informasi di-tentukan oleh guru
3. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima informasi
4. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/-masalah yang disi-mulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
5. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan
6. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu
7. Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok) Waktu belajar siswa se-bagian besar dipergu-nakan untuk mengerja-kan buku tugas, men-dengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individual)
8. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
9. Keterampilan dikem-bangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikem-bangkan atas dasar latihan
10. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor
11. Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tsb keliru dan merugikan Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman
12. Perilaku baik berdasar-kan motivasi intrinsik Perilaku baik berdasar-kan motivasi ekstrinsik
13. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
14. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

C. PEMIKIRAN CTL TENTANG BELAJAR
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut :
1. Proses belajar
 Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri
 Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru
 Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan
 Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
 Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
 Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi didrinya, dan bergelut dengan ide-ide
 Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.
2. Transfer Belajar
 Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
 Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
 Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu
3. Siswa sebagai Pembelajar
 Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru
 Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
 Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.
 Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
4. Pentingnya lingkungan Belajar
 Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
 Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
 Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar
 Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

D. PENERAPAN CTL DALAM PEMBELAJARAN.
Untuk mengaplikasikan pembelajaran kontekstual dapat digunakan berbagai metode yang membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran seperti problem based learning, cooperatif learning, project based learning, servic learning dan work based learning ( Berns,2001: 4) . Pendapat tersebut mengatakan bahwa untuk mewujudkan pembelajaran kontekstual guru harus menggunakan metode yang banyak melibatkan pengalaman belajar siswa secara langsung.
Cooperatve learning merupakan salah satu alternatif plihan yang dapat mewujudkan pembelajaran kontekstual. penerapan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dirasa sangat sesuai karena mengkaji permasalahan yang autentik dan membangun rnasyarakat belajar (learning comunity). Di dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, namun siswa juga harus mempelajari ketrampilan-ketrampilan khusus yang disebut ketrampilan kooperatif. Ketrampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan. Dengan model ini diharapkan tujuan dan misi pembelajaran IPS yaitu mendidik dan membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan , sikap, nilai, moral dan ketrampilan untuk memahami lingkungan sosial masyarakat dapat dicapai (Etin Solihatin,2007;3)

E. RANCANGAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN IPS.
Kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPS pada prinsipnya terdiri dari tiga langkah yaitu :

1. Kegiatan Pendahuluan (Awal)

Kegiatan utama yang dilaksanakan dalam pendahuluan pembelajaran ini di antaranya untuk menciptakan kondisi-kondisi awal pembelajaran yang kondusif, melaksanakan kegiatan apersepsi (apperception), dan penilaian awal (pre-test). Penciptaan kondisi awal pembelajaran dilakukan dengan cara: mengecek atau memeriksa kehadiran peserta didik (presence, attendance), menumbuhkan kesiapan belajar peserta didik (readiness), menciptakan suasana belajar yang demokratis, membangkitkan motivasi belajar peserta didik, dan membangkitkan perhatian peserta didik. Melaksanakan apersepsi (apperception) dilakukan dengan cara: mengajukan pertanyaan tentang bahan pelajaran yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan komentar terhadap jawaban peserta didik, dilanjutkan dengan mengulas materi pelajaran yang akan dibahas.

2. Kegiatan Inti Pembelajaran
Kegiatan inti merupakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experiences )
Kegiatan lainnya di awal kegiatan inti pembelajaran terpadu yaitu menjelaskan alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Dalam tahapan ini guru perlu menyampaikan kepada peserta didik tentang kegiatan-kegiatan belajar yang harus ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema/topik, atau materi pembelajaran terpadu. Kegiatan belajar yang ditempuh peserta didik dalam pembelajaran terpadu lebih diutamakan pada terjadinya proses belajar yang berkadar aktivitas tinggi. Pembelajaran berorientasi pada aktivitas peserta didik, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan-kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dipelajarinya, sehingga prinsip-prinsip belajar dalam teori konstruktivisme dapat dijalankan. Dalam hal ini, guru harus berupaya menyajikan bahan pelajaran dengan strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik pada upaya penemuan pengetahuan baru.

3. Kegiatan Akhir (Penutup) dan Tindak Lanjut

Secara umum kegiatan akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu di antaranya:

 menyimpulkan pelajaran dan kegiatan refleksi;

 melaksanakan penilaian akhir (post test);

 melaksanakan tindak lanjut pembelajaran melalui kegiatan pemberian tugas atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi atau bimbingan belajar; dan

 mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang, dan menutup kegiatan pembelajaran.

4. Evaluasi dan Penilaian
Objek dalam penilaian pembelajaran terpadu mencakup penilaian terhadap
proses dan hasil belajar peserta didik. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Penilaian proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya, hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.
Penilaian dalam pembelajaran IPS terpadu dalam satu topik/tema mencakup beberapa Kompetensi Dasar. Namun ada Kompetensi Dasar atau indikator yang tidak bisa dipadukan, sehingga harus dibelajarkan dan dinilai secara terpisah.
Penilaian yang dikembangkan mencakup teknik, bentuk dan instrumen yang digunakan terdapat pada lampiran.
a. Teknik Penilaian
Teknik penilaian merupakan cara yang digunakan dalam melaksanakan penilaian tersebut. Teknik-teknik yang dapat diterapkan untuk jenis tagihan tes meliputi: (1) Kuis dan (2) Tes Harian.
Untuk jenis tagihan nontes, teknik-teknik penilaian yang dapat diterapkan adalah: (1) observasi, (2) angket, (3) wawancara,(4) tugas, (5) proyek, dan (6) portofolio.

b. Bentuk Instrumen
Bentuk instrumen merupakan alat yang digunakan dalam melakukan penilaian/pengukuran/evaluasi terhadap pencapaian kompetensi peserta didik. Bentuk-bentuk instrumen yang dikelompokkan menurut jenis tagihan dan teknik penilaian adalah:
• Tes: isian, benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, dan uraian.
• Nontes: panduan observasi, kuesioner, panduan wawancara, rubrik, dan unjuk kerja.
c. Instrumen
Instrumen merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi. Apabila penilaian menggunakan tehnik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja dan tugas rumah yang berupa proyek, harus disertai rubrik penilaian. Contoh RPP pada halaman berikutnya.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SMA : SMA N 1 KRETEK
Mata Pelajaran : Geografi
Kelas/Semester : X (sepuluh) / 2(dua)
Standar Kompetensi : 3. Menganalisis unsur-unsur geosfer
Kompetensi Dasar : 3.3. Menganalisis hidrosfer dan dampaknya terhadap
kehidupan di muka bumi
Indikator : – Menjelaskan gerakan arus laut
– Mengidentifikasi kualitas air laut di Indonesia
– Membedakan batas perairan laut Indonesia
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu
– Menunjukkan pada peta dunia letak arus-arus laut dunia
– Menganalisis kualitas air laut di Indonesia
– Mengklasifikasi batas perairan laut Indonesia

B. Materi Pembelajaran
– Perairan Laut
1. Gerakan air laut
2. Kualitas air laut
3. Wilayah Perairan Laut Indonesia

C. Pendekatan Dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Kontekstual
Metode : Diskusi Kelompok ( Cooperative Learning)

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
• Apersepsi: guru menyapa siswa, kemudian mengabsen.
• Orientasi : Memasang Peta Dunia
2. Kegiatan Inti
• Guru menjelaskan tujuan bpembelajaran yang ingin dicapai serta menjelaskan langkah kegiatan pembelajaran yang akan dilalui siswa.
• Membagi siswa dalam kelompok ( satu kelompok terdiri dari 5 orang)
• Guru menyuruh salah satu wakil masing-masing kelompok untuk menemutunjukkan letak arus-arus dunia pada peta dunia.
• Mendiskusikan masuknya Pulau Sipadan dan Ligitan ke dalam wilayah Malaysia. Analisis berdasarkan batas perairan laut Indonesia.
• Menyimpulkan hasil diskusi.

3. Kegiatan Penutup
• Melakukan refleksi materi yang telah dibahas.
• Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang kurang dimengerti.

E. Sumber/ Bahan/ Alat Belajar
– Kurikulum KTSP dan perangkatnya
– Pedoman Khusus Pengembangan Silabus KTSP SMA – ESIS
– Buku sumber Geografi SMA – ESIS
– Buku-buku penunjang yang relevan
– Peta Dunia
– OHP / Slide Proyektor
– Internet

F. Penilaian
– Teknik penilaian : Tes dan Non Tes
– Bentuk Instrumen : Tes essay dan Unjuk Kerja
– Instrumen :
Unjuk kerja : Diskusikan mengapa Pulau Sipadan dan Ligitan masuk kedalam wilayah Malaysia! Analisis berdasarkan batas perairan laut Indonesia!
Tes isian : 1. Bedakan pengertian gelombang dan arus laut!
2. Berikan 3 contoh arus laut yang ada di samudra pasifik!
3. Sebutkan 4 faktor yang mempengaruhi salinitas air laut
4. Jelaskan yang dimaksud batas Zone Ekonomi Eksklusif
– Kunci soal essay
1. Gelombang merupakan gerakan air laut yang tidak teratur, sedang arus laut merupakan gerakan air laut yang tetap dan teratur
2. Contoh arus laut yang ada di samudra pasifik adalah ; arus Kuroshio, Oyashio dan Labrador
3. Yang mempengaruhi salinitas antara lain Curah hujan, air sungai, penguapan dan suhu air laut
4. Batas ZEE adalah batas wilayah laut yang diukur sejauh 200 mil dari garis pantai

- Pedoman penskoran soal essay SOAL No 1 : 2
2 : 3
3 : 4
4 : 1
Total skor untuk soal isian adalah 10

Lembar Penilaian Diskusi

Hari/Tanggal : …………………………………………………….
Topik Diskusi : ……………………………………………………..

No Sikap/Aspek yang dinilai Nama Kelompok/ Nama peserta didik Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif
Penilaian kelompok
1. Menyelesaikan tugas kelompok dengan baik
2. Kerjasama kelompok
3. Hasil tugas
4. Penggunaan bahasa yang baik
Jumlah Nilai Kelompok
Penilaian Individu Peserta didik
1. Partisipasi dalam kegiatan
2. Berani menjawab pertanyaan
3. Inisiatif
4. Ketelitian
Jumlah Nilai Individu

Kriteria Penilaian:

Nilai kualitatif Nilai kuantitatif
Memuaskan 4 > 80
Baik 3 68 – 79
Cukup 2 56 – 67
Kurang 1 < 55

Kepala Sekolah
SMAN 1 Kretek

Drs. Ibnu Suhanda
NIP. 131124855 Bantul, 5 Januari 2009

Guru mata pelajaran

Dra. Sovia Isniati
NIP. 132252830

BAB III
KESIMPULAN

Untuk mengaplikasikan pembelajaran kontekstual dapat digunakan berbagai metode yang membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran seperti problem based learning, cooperatif learning, project based learning, servic learning dan work based learning. Untuk mewujudkan pembelajaran kontekstual guru harus menggunakan metode yang banyak melibatkan pengalaman belajar siswa secara langsung.
Cooperatve learning merupakan salah satu alternatif plihan yang dapat mewujudkan pembelajaran kontekstual. Penerapan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dirasa sangat sesuai karena mengkaji permasalahan yang autentik dan membangun rnasyarakat belajar (learning comunity). Di dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, namun siswa juga harus mempelajari ketrampilan-ketrampilan khusus yang disebut ketrampilan kooperatif. Ketrampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan. Dengan model ini diharapkan tujuan dan misi pembelajaran IPS yaitu mendidik dan membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan , sikap, nilai, moral dan ketrampilan untuk memahami lingkungan sosial masyarakat dapat dicapai Untuk mengaplikasikan pembelajaran kontekstual dapat digunakan berbagai metode yang membuat siswa aktif dalam proses pembelajaran seperti problem based learning, cooperatif learning, project based learning, servic learning dan work based learning

DAFTAR PUSTAKA

- Bern, Robbert G( 2001), Contextual Teaching and learning, The Hightlight Zone : Researh @ work No 5 http :// http://www.nccte.org/publication. diakses tanggal 20 Oktber 2004.

- Ditdik SLTP (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL). Jakarta.:Depdiknas

- Gagne, Robert M. and Leslie J. Briggs. (1979). Principles of instructional design. New York: Rinehart and’ Winston

- Indra Jati Sidi(2004) Pelayanan Profesional, Kegiatan Belajar-Mengajar yang Efektif. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.

- Puskur Balitbang Depdiknas (2003) Model-model Pembelajaran Efektif. (www.puskur_balitbang_depdiknas.com).up date 28 Agustus 2007.

- Solihatin, Etin ( 2008 ) Cooperative Learning, analisis Model Pembelajaran IPS, Jakarta: Bumi Aksara

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: